Total Pageviews

Followers

Candi Gedong Songo


Candi Gedong songo adalah candi yang terdiri dari 9 buah yang terletak di daerah Ungaran Kabupaten Semarang
Candi Gedong Songo terletak di desa Candi Kecamatan Ambarawa di lereng Gunung Ungaran,Kata Gedong berarti bangunan dan songo berarti sembilan sehingga kurang lebih berarti candi yang berjumlah sembilan. Candi ini memang terbilang cukup unik. Pada awalnya disebut Gedong Pitoe karena pertama kali ditemukan oleh Rafles hanya terdiri dari tujuh bangunan candi. Namun kemudian ditemukan dua candi lagi walaupun dalam keadaan tidak utuh. Candi-candi yang terletak di Gunung Ungaran ini diyakini sebagai Candi Hindu dengan ditemukannya arca-arca Hindu yang terletak didalam dan disekitar lokasi candi. Diantaranya dengan ditemukannya arca Ciwa Mahadewa, Ciwa Mahaguru, Ganeca, Durga Mahisasura Mardhini, Nandi Swara, Mahakala dan Yoni yang ada di bilik candi. Keistimewaan yang lain dari Candi Gedong Songo adalah terletak pada arca gajah dalam posisi jongkok di kaki Candi Gedong III, dan Yoni dalam bentuk persegi panjang pada bilik Candi Gedong I.
Memasuki wilayah candi ini udara sejuk mulai terasa dengan angin khas pegunungan yang mendayu-dayu.  Pintu masuk candi yang hanya beberapa meter dari lokasi parkir mempermudah para wisatawan untuk mencapai lokasi ini. Dengan hanya membayar tiket masuk sebesar Rp. 2,000,- kita bisa memasuki dan mengitari lokasi candi sepuas-puasnya.
Candi Gedong Songo tidak hanya menawarkan wisata sejarah, namun juga menawarkan wisata keindahan alam juga wisata olah raga. Candi yang terletak di ketinggian Gunung Ungaran ini memang menampilkan pesona alam yang luar biasa karena lokasinya yang terletak di ketinggian gunung.Selepas gerbang masuk Candi, berjalan sedikit ke atas sudah terlihat lokasi candi pertama yang merupakan candi yang terletak di lokasi yang paling bawah.
Candi Gedong Songo adalah candi yang terletak di daerah Ungaran Kabupaten semarang
Bersamaan dengan itu biasanya ada orang yang akan mengikuti kita untuk menawarkan jasa menunggang kuda. Jadi apabila tidak ingin terlalu capai bisa naik kuda dan dikenakan biaya Rp. 40,000,- per kuda untuk mengitari seluruh areal candi. Setelah Candi demi Candi dilalui, sampailah kita pada lokasi candi yang keempat. Di depan lokasi candi keempat terdapat lapangan yang cukup luas, kurang lebih dua kali lapangan sepakbola dan datar yang biasanya dipakai untuk bermain sepakbola oleh warga setempat atau juga berkemah buat para pengunjung. Diantara lokasi candi ketiga dan keempat terdapat sumber air panas alam dimana juga disediakan tempat mandi dengan tempat tertutup, sehingga buat yang mau menikmati sumber air panas bisa meluangkan waktu ntuk mandi.
Lokasi candi yang kelima merupakan lokasi candi terakhir dan tertinggi. Begitu memasuki pelatarannya, kita bisa bebas memandang ke bawah, bahkan kalau cuaca sedang cerah berturut-turut bisa kita lihat dari sisi selatan candi, yaitu Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Andong dan Gunung Merapi. Berlama-lama duduk di lokasi candi yang kelima ini memang sangat mengasyikkan, Apabila kita ingin melanjutkan ke 4 buah Candi selanjutnya, kita tidak akan dapat menemukannya karena candi-candi tersebut sudah tidak utuh
 alias hanya berupa batu-batuan yang terlihat semacam situs
Thursday, May 26, 2011 | 0 comments | Read More

Makam Ki Ageng Pandanaran


Makam Ki Ageng Pandanaran, Adipati pertama semarang, pelopor berdirinya Kota Semarang, Yayasan Sosial Pandanaran


Ki Ageng Pandanaran adalah Adipati Semarang yang pertama dan tanggal diangkatnya beliau sebagai adipati dijadikan hari jadi Kota Semarang. Dengan demikian beliau dianggap sebagai pelopor berdirinya Kota Semarang. Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran meninggal pada tahun 1496. Tempat ini banyak dikunjungi oleh peziarah terutama pada acara khol meninggalnya beliau setiap bulan Muharam setahun sekali. Makam Ki Ageng Pandanaran ini berada di Jl. Mugas Dalam II/4, Kelurahan Mugasari kurang lebih 1 Km dari Tugu Muda, dibuka untuk umum setiap hari dan setiap saat. Dari masjid Baiturrahman ke makam Ki Ageng Pandanaran, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Dari Masjid Baiturrohman, anda akan menyusuri jalan Pandanaran di sebelah selatan Masjid menuju arah barat sepanjang 200 m. Sesampainya di depan Toko Buku Gramedia, sebuah belokan kecil akan menuntun anda ke arah makam Ki Ageng Pandanaran. Selama dalam perjalanan, anda akan melihat pemandangan kantor harian sore Wawasan, kampus Stikubank dan kantor Persatuan Wartawan Indonesia Jawa Tengah (kawasan Mugas). Untuk selanjutnya, anda akan menempuh perjalanan panjang yang terjal, naik turun bukit dan jalan berundak yang mengantarkan anda menuju Jl. Mugas II di mana Ki Ageng Pandanaran di makamkan. Makam yang terletak di kawasan Mugas Dalam Rt 7/III semula memiliki corak bangunan kuno yang khas Semarang, unsur kolonialisme yang berkukuh hampir 350 tahun memberikan dampak buruk terhadap eksistensi makam Ki Ageng Pandanaran II. Belanda berupaya untuk mengubur habis segala peninggalan yang terkait dengan Islam atau budaya yang berseberangan dengan budaya Belanda yaitu Kristen. Maka, penghancuran dan pendirian gereja untuk mengepung budaya asli pribumi menjadi sebuah keniscayaan oleh Belanda dan penjajah yang lain.
Desain ruang kota yang ada dalam wilayah “kota lama” merupakan saksi, bahwa kolonial Belanda berusaha mengepung masyarakat pribumi dengan banyaknya gereja-gereja yang didirikan. Hal tersebut juga terjadi pada kompleks makam Ki Ageng Pandanaran I dan II. “semua itu kami tetap bersemboyan becik ketitik ala kethoro”. tutur Kardiyono generasi ke-17 dari Ki Ageng Pandanaran II.
Menurutnya, peninggalan bangunan bukanlah hal yang penting, begitupun peninggalan-peninggalan yang lainnya, seperti keris ataupun batu-batuan berharga. Benda-benda tersebut peninggalan Ki Pandanaran saat menjadi Adipati Semarang I yang cukup kaya. Selain itu, Ki Ageng Pandanaran juga meninggal sesuatu yang sangat berharga yakni ajaran keagamaan. “Ki Ageng Pandanaran dalam menyebarkan agama Islam, memakai falsafah hidup dengan konsep DUIT. Yaitu “D”, Doa ibu didalam setiap aktifitas hidup, “U” Usaha yang ikhlas dan bermanfaat bagi sesama, “I” Iman yang melandasi doa dan usaha, dan terakhir adalah puncak insan kamil, “T” Taqwa di setiap saat dan di setiap tempat”. Tambahnya.
Saat ini, pengawasan dan perawatan makam ditangani oleh Yayasan Sosial Sunan Pandanaran (YSSP) yang berdiri pada tanggal 9 Juli 1969. Yayasan ini merupakan yayasan khusus pewaris-pewaris keturunan Ki Pandanaran yang menikah dengan Endang Sejawilah atau dikenal dengan Nyi Ageng Pandaran dari daerah Pragoto. Selama hidupnya, mereka memiliki enam keturunan yang tersebar di Jawa Tengah, yaitu pangeran Kasepuhan (Sunan Tembayat), Bayat, Klaten. Pangeran Kanoman (P. Mangkubumi) Imogiri, Surakarta. Pangeran Wotgalih, Nyi Ngilir, dan Pangeran Bojong.
Makam yang telah mengalami renovasi tiga kali ini (1960, 1975, 1991) mengalami puncak keramaian dalam dua tahap. Tahap pertama Haul Ki Ageng Pandanaran yang jatuh pada tanggal 17 Muharram (Suro), dan Hari jadi kota Semarang setiap tanggal 2 Mei. Biasanya, prosesi ‘buka luwur’ atau haul dihadiri dari keluarga Mataram keturunan dari pangeran Mangkubumi. “untuk itu sudah selayaknya kita ikut menjaga, merawat dan mengetahui tentang Ki Ageng Pandanaran sebagai sesepuh Semarang dan Jawa Tengah”. Pesan ketua Yayasan Sosial Pandanaran.
Wednesday, May 25, 2011 | 0 comments | Read More

Joglo Kampoeng Doeloe Tembalang Semarang

Tempat makan, Kuliner, Kuliner Semarang, Joglo, Kampoeng Doeloe, Tembalang,Joglo Kampoeng Doeloe Tembalang, Tirto Agung, Gerbang Tol, Gerbang tol Semarang Ungaran, Kepiting Saus Tiram
Ternyata ada tempat makan baru di tembalang, di dekat gerbang Tol baru ke arah Ungaran yaitu  Joglo "KAMPOENG DOELOE", tempat makan ini berada di jln. Tirto Agung No. 62 Tembalang Semarang Telp (024)740 262 62.
Pertama memasuki parkirannya, yang terlihat adalah sederetan Gasebo dari bambu yang disediakan buat pengunjung dalam jumlah sedikit. di bagian dalam juga disediakan ruangan untuk pengunjung berjumlab banyak dengan Tempat Nyaman berbahan dr kayu jati penuh dengan Ukiran Khas Jepara. excelent. bisa untuk 200 orang
Pelayanan yang diberikan cukup ramah dan cepat, terbukti, begitu kita turun dari kendaraan langsung disambut oleh pelayan dengan ramah dan segera dipersilahkan memilih tempat.
Dari menu yang disajikan, harganya juga tidak terlalu mahal, tempat bersih dan setelah mencoba beberapa menu yang ada, yaitu Kepiting Saus Tiram, nasi goreng seafood, ternyata sensasi rasanya cukup mengagetkan, dan akan membuat kita kepengin datang lagi kesana.
Hal yang menarik lainnya adalah di bagian belakang RM, kita bisa temukan Kolam Ikan yang dihuni beberapa ekor Ikan Koi yang berukuran cukup besar yang membuat kita merasa seperti makan di alam.

Sunday, May 22, 2011 | 0 comments | Read More

Ikan Bakar Cianjur

Tempat makan, Kuliner, Kuliner Semarang, Joglo,ikan bakar, ikan bakar cianjur,semarang, kota lama, ibc teuku umar semarang, tumis kangkung, Baby Kailan, Sayur Asem Kailan, Pucuk Daun Labu dan Karedok, Ikan Nila, Ikan Gurame, Ikan Lele
Jika Anda berkunjung ke Kota Semarang, jangan lupa singgah di kawasan Kota Lama. Selain kaya akan sejarah, kawasan Kota Lama juga terdapat tempat makan yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Rumah makan tersebut bernama Ikan Bakar Cianjur. Selain bangunan tua yang eksotik, berusia lebih dari 200 tahun, Ikan Bakar Cianjur mempunyai resep masakan yang beragam dan enak.

Sesuai dengan namanya, resto ini menyediakan menu-menu ikan bakar. Ada beberapa pilihan menu ikan yang dapat Anda coba, misalnya Ikan Nila, Ikan Gurame, Ikan Lele, dll yang dimasak dan diolah dengan berbagai cara seperti Sup Ikan, dibakar, digoreng, , Asam manis, Tausi. Untuk tumisan pelengkap Anda bisa mencoba tumis kangkung, Baby Kailan, Sayur Asem Kailan, Pucuk Daun Labu dan Karedok serta lalapannya.



Nasi yang tersedia ada 2 pilihan, yaitu Nasi Liwet dan Nasi Uduk. Nasi putih ini rasanya sangat gurih dan beraroma wangi karena diberi campuran Ikan Teri. Ikan yang dibakar pun tidak terlalu gosong, sehingga warna kulit Ikan yang telah matang tetap terjaga agar tidak hitam namun tetap renyah dan empuk.




Wednesday, May 18, 2011 | 1 comments | Read More

Daftar Kuliner Favorit Semarang



1. Asem-asem Koh Liem
Jl.Karanganyar no28/C4 depan SMU Loyola
buka jam 7-19
2. Tahu Gimbal Pak Polo
Pujasera Jl. Supriyadi depan Kantor Polsek Semarang Timur
Buka jam 9-24
3. Soto Bangkong Pak Soleh
Jln. Bangkong (dekat lampu merah sebelah kantor polisi)
Jam 7-22
4. Soto ayam Pak No
Jl. Sukun (Sebelah SPBU dekat lampu meraH)
Buka 24 jam
5. Soto Bokoran
Jl. Plampitan no.55
Buka jam 6-12
6. Nasi Goreng Pak Taman
Jl. Stadion Selatan
Buka jam 6.30 -16
7. Sate kambing 29 Pak Yoe
Jl. Letjen Suprapto no 29 (depan Gereja Blenduk)
Buka jam 8-21
8. Nasi pecel Yu Surip
Jl. MT. Haryono depan kantor Radio Gajahmada FM
Buka 18 – 23
9. Bakmi Jawa Rileks
Jl. Depok, dekat perempatan Jl. Gajah Mada
Buka jam 17-12
10. Iwak Pe (Ikan Pari) Mbah Jingkrak
Jl. Beringin no.23
Buka jam 9-20
11. Nasi Koyor Makmi
Jl. Suyodono no 37
Jam 6-20
12. Nasi Pindang Pak Ndut
Jl. Stadion Selatan, Depan BKD Semarang (sebelah kiri stadion Diponegoro)
Buka jam 7-14
13. Nasi Ayam Bu Wido
Jl. Melati Selatan
Buka jam 16.30 -22
14. Nasi Gandul Pak memed
Jl. Dr.Cipto no.12A
Buka jam 17-22
15. Lontong Capgomeh Air Mancur
Jl. Gang Pinggir no.96 (depan Bank Panin)
Buka Jam 9-16
16. Resto Kampung Laut
Jl. PRPP (samping Taman Maerokoco)
Buka Jam 11-22
17. Mi Kopyor Pak Dhuwur
Jl. Tanjung (samping kantor PLN dekat stasiun Poncol)
Buka jam 8-16
18. Sate sapi Pak Kempleng
Jl. Diponegoro 217 Ungaran
Buka jam 9-21
19. Soto Sapi Pak Keri
Jl. Diponegoro no.197 Ungaran
Buka jam 7.30 – 20.30
20. Kepiting Taoco Nyoto Roso
Jl. Supriyadi no.58
Buka jam 11-15 17-21.30
21. Tahu Baxo Bu Pudji
Jl. Letjen Suprapto no.24, Ungaran
Buka jam 9-21
22. Lumpia Gang Lombok (ternyata halal, lho)
Jl. Gang Lombok
Buka jam 8-17
23. Tahu pong GajahMada
Jl. Gajah Mada no.63B
Jam 10-20
24. Istana Wedang
Jl. Pemuda no.21 (samping Hotel Novotel)
Buka jam 8-24
25. Kue Lekker Pak Paimo
Jl.Karanganyar (depan SMU Loyola)
Buka jam 9-18
26. Nasi kucing Pak Gie
Jl. Inspeksi Timur
Buka jam 23-6
27. Es marem Pak Kus
Jl. MT Haryono
Buka jam 18-1
28. Toko Bandeng Juwana (utk oleh-oleh)
Jl. Pandanaran no.57
Buka jam 8-22
29. Ayam tulang Lunak
Jl. Wahid Hasyim no. 109
Buka jam 7-19.30
30. Toko Oen
Jl. Pemuda no.52
Buka jam 9 -22
31. De Koning
Jl. Pemuda
32. Pia Kemuning (Haram)
Jl. Kemuning no. 30
33. Es Puter Conglik
Simpang 5 (pindah ya??)
Jam 18-24
Rp 8rb dapet 2 buah duren 4 macam rasa es
34. Nasi Ayam Karangkojo
Simpang 5, seberang RS Telogorejo
Rp 3500/porsi
35. Soto Kudus Mbak Lien
Simpang 5, deket RS Telogorejo
Pagi sampe siang
36. Soto Selan
Jl. Depok
37. Nasi Goreng Babat Pak Taman
Jl. Stadion
38. Ngo Hiang + Kee Kian + Babi Panggang (Haram)
Jl. Moh. Suyudi
39. Es Dawet Kampung Kali
Jl. Kartini depan Sekolah Theresiana
40. Es Kelapa Muda Kartika
Jl. MT Haryono, deket pertigaan Jl. Petolongan
41. Nasi Ayam Bu Wido
Jl. Kemuning, dekat kantor polisi
42. Nasi Gandul Pak Memet
Jl. Dr. Cipto, dekat Jl.Citarum
43. Lesehan baron
Jl. Puri Anjasmoro
44. RM Kampung Laut
Jl. Puri Anjasmoro, dekat PRPP
45. Sate Kambing Pak Rony
Seberang Gang Baru
46. Es marem (es campur + tape kering)
Seberang Gang Baru
47. Sate Babi Sapi (Haram babinya)
Jl.gang Baru
48. Mie Pak Min (tidak halal!!)
Jl. Gg Baru
49. Mie Ti Tee Gajah Mada (kaki babi, tidak halal)
Jl. Gajah mada, seberang Tahu Pong)
50. Tahu Pong Karangsaru
Jl. Karangsaru
51. Bubur Jl. Jagalan
Jl. Jagalan
52. Lind’s Café (es Krim)
Jl. Brotojoyo, Pondok Indraprasta
53. Swieke Untung (kodok)
Jl. Moh Suyudi
54. Swieke Marin + Tahu Gimbal
Jl. Puri Anjasmoro, dekat Toserba Marin
55. Nasi Pecel Gandhekan
Jl. MT Haryono (siang)
Jl. Pahlawan, seberang Mal Robinson Ramayana (malam)
56. Mie Jawa Bung Jhon
Jl. Pringgading, belakang Gereja Isa Almasih (GIA)
57. Mie Jawa Pak Har
Jl. Pringgading, belakang GIA
58. Mie Jowo Pak Gareng
Jl. Wotgandul
59. Sate Ayam
Jl. Gajahmada, seberang Hotel Quirin/Queen
60. Pisang Plenet
Jl. Gajahmada juga, seberang sate ayam
61. Pecel bu surip, di mt haryono buka jam 18 datenge hrs gasik nek dah kemaleman sitik dah ruameeee pollll must eat: bantal, sate keong
62. Soto pak keri, bubakan tempate nyelip jd hrs tny org, deretan ruko2 tempat travel meskipun tempate ndak meyakinkan tp sotone enak buka pagi
63. Soto pak naryo, indraprasta bukan di pondok indraprasta tp di jln indraprasta ne, aku ndak tau nomer persis’e dari arah bandara ada di sebelah kiri buka pagi
64. Soto bangkong, deket sedes
65. Seafood gama, deket sedes, beda bbrp rumah dr sedes must eat: udang bakar,jagung peda, tempe gorenge jg enak lo kriuk2, hampir smua makanane enak ok buka pagi sampe malem
66. Sate kambing, deket greja blenduk smua org smg pasti tau tempat ini
67. Semawis, di gg warung (Haram) tiap jumat – minggu seng terkenal sate babi ala sate kambing, mie cool buka malem
68. Babi cinde, di jln cinde (Haram) seng terkenal babi panggang e
69. Mi titie, gajah mada thamrin mt haryono (Haram) buka malem
70. s2, sisingamangaraja ini baru buka terkenal buanget di smg makanane jepang, cina, italia, modele resto kelas atas gt tp ndak tll mahal ok enak sih tp aku lbh seneng makanan warungan, nek resto gt kan di kota mana wae ada tp bolehlah sekali2 kesana soale ruameee bgt n ngetren bgt di smg buka pagi-malem, enake kesana malem
71. Warteg, sisingamangaraja ini tempate deket s2, aku lbh seneng makan sini ndak istimewa tp nek lg pengen warteg lmyn sih caution: hargane mahal lo meskipun warteg tp nek jam makan seng dateng bnyk seng naek mobil mewah setauku buka pagi sampe siang
72. Nori, jangli resto jepang, lumayanlah, mirip2 s2 buka pagi-malem
73. Gang2 sulai, diponegoro korean bbq, all u can eat lumayan
74. Resto mutiara, gombel nek ini beli pemandangan, makanane biasa2 wae
75. Nasi ayam, lapangan brumbungan yeye seneng bgt nasi ayam ini aku suka sate usus e buka malem
76. Jagung bakar, simpang lima dulu ada langgananku disitu, enak bgt wes tp dee dah ndak jualan lg
77. Wedang es puter pak kirman, mt haryono buka malem
78. Black canyon, lupa ik di jalan apa heheeh tanya wae mesti tau ini kaya cafe, di jkt ada ketoke enak buat ngumpul2 sama temen kesana malem
79. Bakso mawardi, deket rs telogorejo bakso bapak2, di pinggir jalan, buka sore2 gt, ruameneeeeee
80. Bakmi singkawang, pringgading, dekete gia pringgading, tp di sebrange ya aku suka nasi campur’e, bakmi singkawang’e ya enak, porsine besar buka pagi sampe siang
Wednesday, May 18, 2011 | 2 comments | Read More

Menikmati Sajian Asem Asem Koh Liem



Di Semarang ada sebuh warung makan yang kental citarasa Jawa, namun ada sentuhan kuliner Cina. Itulah Warung Makan Koh Liem. Si empunya warung bernama Piek Swie Liem, akrab dipanggil Koh Liem.

Warung langganan warga keturunan Tionghoa ini menyediakan lauk pauk gaya rumahan untuk menu sehari-hari. Ada bandeng sarden, kikil lombok ijo, dan cap jay. Nasi langgi, sayur bayam, lontong cap gomeh hingga gorengan juga ada. Gurihnya nasi langgi selalu bikin kangen. Lauknya ada kering kentang/tempe kentang, empal daging, telur bumbu terik dan telur dadar diiris tipis. Lengkap dengan sambal terasi serta lalapan timun kemangi.

Lontong cap gomeh dengan kuah opor ayam yang pekat makin istimewa denga tambahan telur pindang, sayur rebung, sambal goreng ati, empal gepuk, dan keripik kentang. Yang jadi andalan di sini adalah asem-asemnya. Yaitu daging sapi yang dipotong dadu dimasak berkuah kecoklatan bening dengan rasa asam manis yang menyegarkan. Rasa asem yang segar diperoleh dari blimbing wuluh yang dicampur ke dalam kuah, dengan perpaduan pedas dari cabai.


Selain itu masih banyak menu makanan lain yang patut dicoba seperti Kuah sosis, Cumi - cumi asam manis, Gimbal udang dan lain-lain. Penyajian depot seperti makanan fastfood jadi sehabis kita memesan makanan dan membayar, pesanan baru bisa dibawa untuk disantap.

Dekat dengan lokasi depot dapat juga dikunjungi Kue Leker Paimo di depan sekolah Loyola, yang berseberangan dengan Depot Koh Liem. Lokasi parkir agak sempit terutama bila bersamaan dengan jam pulang sekolah siswa SMA Loyola.

Jika Anda berwisata ke Semarang, jangan lewatkan untuk benkunjung ke warung Koh Liem, salah satu primadona wisata kuliner Semarang
Wednesday, May 18, 2011 | 0 comments | Read More

Masjid Agung Jawa Tengah

semarang, wisata, religi, masjid, masjig agung, jawa tengah, masjis agung semarang, masjid agung jawa tengah, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, Arsitektur Jawa, Masjid Nabawi, Menara Asmaul Husna, Tanjung Emas,

Masjid Agung Jawa Tengah merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia. Masjid dengan arsitektur indah ini mulai dibangun pada tahun 2001 dan selesai pada tahun 2006. Kompleks masjid terdiri dari bangunan utama seluas 7.669 m2 dan halaman seluas 7.500 m2.  Masjid Agung Jawa Tengah terletak di jalan Gajah Raya, tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.

Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 15.000 ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2006. Upacara peresmian ditandai dengan penandatanganan batu prasasti setinggi 3,2 m dan berat 7,8 ton yang terletak di depan masjid. Prasasti terbuat dari batu alam yang berasal dari lereng Gunung Merapi.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Agung Jawa Tengah juga merupakan obyek wisata terpadu pendidikan, religi, pusat pendidikan, dan pusat aktivitas syiar Islam. Dengan berkunjung ke masjid ini, pengunjung dapat melihat keunikan arsitektur masjid yang merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Roma dan Arab.
Arsitektur Jawa terlihat pada beberapa bagian, misalnya pada bagian dasar tiang masjid menggunakan motif batik seperti tumpal, untu walang, kawung, dan parang-parangan. Ciri arsitektur Timur Tengah (Arab) terliat pada dinding masjid dinding masjid yang berhiaskan kaligrafi. Selain itu, di halaman Masjid Agung Jawa Tengah terdapat 6 payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis yang merupakan adopsi arsitektur bangunan Masjid Nabawi yang terdapat di Kota Madinah. Masjid ini juga sedikit dipengaruhi gaya arsitektur Roma. Gaya itu nampak pada desain interior dan lapisan warna yang melekat pada sudut-sudut bangunan.
Selain bangunan utama masjid yang luas dan indah, terdapat bangunan pendukung lainnya. Bangunan pendukung itu di antaranya: auditorium di sisi sayap kanan masjid yang dapat menampung kurang lebih 2.000 orang. Auditorium ini biasanya digunakan untuk acara pameran, pernikahan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sayap kiri masjid terdapat perpustakaan dan ruang perkantoran yang disewakan untuk umum. Halaman utama masjid yang terdapat 6 payung hidrolik juga dapat menampung jamaah sebanyak 10.000 orang.
Keistimewaan lain masjid ini berupa Menara Asmaul Husna (Al Husna Tower) dengan ketinggian 99 m. Menara yang dapat dilihat dari radius 5 km ini terletak di pojok barat daya masjid. Menara tersebut melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Dipuncak menara dilengkapi teropong pandang. Dari tempat ini pengunjung dapat menikmati udara yang segar sambil melihat indahnya Kota Semarang dan kapal-kapal yang sedang berlalu-lalang di pelabuhan Tanjung Emas.
Di masjid ini juga terdapat Al qur`an raksasa tulisan tangan karya H. Hayatuddin, seorang penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-qur`an dari Wonosobo, Jawa Tengah. Tak hanya itu, ada juga replika beduk raksasa  yang dibuat oleh para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas, Jawa Barat.
Di area Masjid Agung Jawa Tengah terdapat berbagai macam fasilitas seperti perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah, pemandu wisata, museum kebudayaan Islam, cafe muslim, kios-kios cenderamata, buah-buahan, dan lain-lain. Selain itu, terdapat juga berbagai macam sarana hiburan seperti air mancur, arena bermain anak-anak, dan kereta kelinci yang dapat mengantarkan pengunjung berputar mengelilingi kompleks masjid ini.
Untuk memasuki kawasab Masjid Agung Jawa Tengah, pengunjung tidak dipungut biaya. Namun, jika pengunjung ingin memasuki area tertentu seperti Menara Asmaul Husna, pengunjung diwajibkan membayar Rp 3.000 per orang untuk jam kunjungan antara pukul 08.00—17.30 WIB. Dan apabila pengunjung datang pada jam 17.30-21.00 WIB tarif tersebut meningkat menjadi Rp 4.000 per orang. Bagi pengunjung yang ingin menggunakan teropong yang terdapat di Menara Asmaul Husna itu, maka pengunjung harus mengeluarkan ongkos tambahan sebesar Rp 500,- per menit.
Pada saat liburan, masjid banyak di kunjungi wisatawan yang berasal dari berbagai daerah. Bahkan beberapa turis manca negara, khususnya muslim banyak yang melunagkan waktu berkunjung ke masjid ini untuk beribadah sekaligus berwisata.  

Wednesday, May 18, 2011 | 0 comments | Read More

Bakso Daging Sapi Pak Geger Semarang


Kaget Juga pas mau beli Bakso Daging Sapi Pak Geger Semarang  yang tempatnya ada di daerah Mintojiwo, Semarang. dari yang sebelumnya punya penampakan seperti di atas, sekarang pindah di daerah situ juga dengan penampakan yang cukup berbeda yaitu seberti foto di bawah ini :


Kalo dari jalan gede masuk gang dikit. Seporsi harganya Rp. 13,000,. Basonya besar dan padet, rasanya laen dari baso2 biasanya. Penampakannya adalah seperti berikut :


Bagi yang belum pernah coba, silahkan datang dan mencicipinya, dijamin ketagihan

Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Bandeng presto oleh oleh khas Kota Semarang

semarang, kuliner, kuliner semarang, bandeng presto oleh oleh ciri khas semarang, bandeng presto juwana, alamat bandeng presto, ciri khas semarang, oleh-oleh semarang, jalan pandanaran, toko bandeng juwana, alamat bandeng juwana
Tidak ada tempat khusus asal bandeng ini..jadi beli di pandanaran aja ya (Bandeng Juwana yang terkenal)
untuk mendapatkan oleh-oleh dari Kota Semarang,Singgah saja di pusat oleh-oleh kota Semarang yang berada di Jalan Pandanaran.
Berderet toko penganan menyajikan berbagai oleh-oleh khas ibu kota Jateng ini, seperti Wingko, Lumpia, Bandeng Presto dan lain-lain. Ada salah satu toko yang cukup besar yang menyediakan banyak pilihan oleh-oleh yaitu Toko Bandeng Juwana.
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Rica Rica Mentok Semarang


Semula hanya sekedar iseng mencoba resep dari buku dan melihat langsung beberapa warung makan yang dikunjungi. Kini, Yulianti Kusumaningrum, setiap hari disibukkan mengurus warung makan di Jalan MT Haryono (depan kantor Eisa) dan menerima berbagai pesanan mulai dari acara arisan sampai kantor-kantor. Pemilik warung Bu Yuli dengan menu andalan rica-rica mentok dan ayam goring kremes itu, semula staf akunting Pertiwi Garmen. Setelah mengundurkan diri dari kantor, ia belajar memasak dari buku-buku. Akhirnya bersama suami, Paulus Nugroho, memberanikan diri membuka warung makan pada tahun 2004.
“Saya itu awalnya tidak bisa memasak, tapi saya belajar sendiri dari buku resep masakan dan lihat cara orang memasak saat berkunjung ke warung makan,” ujarnya. Lambat laun, warung makannya mulai dikenal oleh warga Semarang. Terlebih lagi, sang suami tidak segan membantu pemasaran dengan menawarkan hasil racikan istrinya secara door to door di kantor, sekolah dan instansi pemerintahan. “Suami saya saat itu sempat menjadi sales ayam saya selama tiga tahun. Beberapa ayam kami potong kecil-kecil untuk tester kepada calon pelanggan,” imbuh Yuli yang diamini suaminya. Menginjak tahun tahun keempat, ia mendapatkan berkah dari Yang Kuasa. Saat itu, sang suami yang profesi sampingannya tukang potong unggas di Pasar Kobong, mendapat pesanan memotong beberapa ekor mentok. Namun, sang pemesan membatalkan janji, sementara mentok sudah dipotong dan dibersihkan. Alhasil, dari pesanan yang gagal itulah, Yuli menemukan resep rica-rica mentok yang jos. “Waktu itu, mentok yang sudah terlanjur disembelih dan dibersihkan tidak jadi diambil. Karena eman-eman akhirnya saya olah saja,” katanya. Radar Semarang yang sempat mencicipi ricarica tersebut mengakui kelezatannya . Rasa daging mentok yang dikenal alotdi tangan Yuli jadi empuk dengan rasa bumbu rempah-rempah yang kuat. Dengan menu andalan itulah, Yuli siap berlomba di ajang Kuliner Khas Semarang
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Sate Kuda Pak Din Semarang


Mungkin menu sate kuda ini memang belum begitu akrab lidah masyarakat. Meski begitu, warung milik pria yang akrab disapa Pak Din ini sudah memiliki pelanggan tersendiri. Rata-rata para pelanggan mempunyai alasan tersendiri mengapa memilih mengonsumsi daging kuda.

Ada yang percaya bahwa daging kuda mampu menambah stamina serta gairah seksual. “Tapi ada juga yang percaya daging kuda bisa mengobati penyakit,” tutur Pak Din. Warung ini tidak terlalu luas, berukuran sekitar 2×9 meter. Dibantu dengan 2 orang pekerja, Pak Din selalu menyapa ramah setiap pengunjung yang datang. Yang istimewa dari masakan Pak Din adalah daging kuda yang empuk dan tidak liat. Padahal, sebagai hewan pekerja, biasanya daging kuda alot ketika dimasak. Rupanya Pak Din memiliki resep khusus sehingga daging kuda tersebut tidak liat. Ketika memasak, ia mencampurkan madu asli untuk mengempukkan daging. “Tapi harus madu asli, kalau tidak asli ya tidak bisa empuk,” jelasnya.

Menurut pengakuan para pelanggannya, seperti disampaikan Pak Din, daging kuda dipercaya bisa mengobati asma, kencing manis, serta asam urat. Sedangkan yang percaya bahwa daging kuda bisa menambah stamina, mengaku kondisi tubuhnya menjadi lebih segar. Tidak lagi malas bangun pagi dan ada juga yang mengaku gairah seksualnya bertambah seusai mengonsumsi daging kuda. Apalagi jika ia mengonsumsi ‘torpedo’ atau alat kelamin kuda jantan. Tak heran jika menu ’torpedo’ sering menjadi buruan bagi pria-pria yang ingin menambah stamina di ranjang.

“Ada beberapa orang yang langsung pulang jika torpedonya sudah habis,” jelasnya. Pak Din mendapatkan daging kuda dari sebuah tempat pemotongan kuda di Dusun Segoroyoso Pleret Bantul Jogjakarta.

Ada 8 menu olahan daging kuda yang ditawarkan. Yakni sate, tongseng, gongso, rica-rica, steak, bistik, nasi goreng kuda serta koyor. Harga per porsi rata-rata Rp 19.000, kecuali koyor yang dihargai Rp 7.000 dan nasi goreng dengan Rp 8.000. Setiap hari ia rata-rata bisa menjual 10 kilogram daging kuda. Warung yang berdiri sejak 11 Agustus 2005 ini buka setiap hari mulai pukul 11.00-23.00. Tapi khusus hari Jumat buka mulai jam 13.00.
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Bebek Bakar Kendil


Ciri khas bebek, dagingnya keras atau alot. Namun, daging bebek olahan Budi Setianjaya dan Ana Zufrida ini dijamin empuk. Kuncinya, ketika memasak, waktunya harus pas. Tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lama.

Itulah keistimewaan yang ditawarkan warung makan Bebek Bakar Kendil Jalan Kusumawardani no 8 Semarang. Selain daging bebek yang empuk, juga rasa bumbunya kuat sehingga menambah cita rasa masakan. “Keistimewaan menu yang kami tawarkan, bebek bakar ditambah dengan bumbu. Ada manis-manis, manis asam pedas, manis pedas-pedas, manis penyetan,” ungkap Budi Setianjaya, sembari mengatakan siap untuk mengikuti ajang lomba Kuliner Khas Semarang yang dipersembahkan Dji Sam Soe bekerjasama dengan Jawa Pos Group (Radar Semarang dan Meteor) ini.

Cara pembakaran atau penggorengan juga unik. Yakni menggunakan kendil (terbuat dari tanah liat) untuk membakar bebek. Sementara untuk menggoreng menggunakan kenci (kuali yang terbuat dari tembaga).

“Kita gunakan kendil karena untuk mencari temperatur yang pas, jadi panasnya lama. Sedikit demi sedikit naik. Hasilnya berbeda jika dibakar langsung pada arang. Demikian juga bebek gorengnya,” ungkap bapak lima anak ini.

Budi menambahkan, usaha yang dirintisnya sejak tiga tahun lalu ini, awalnya dari ayam bakar kendil yang mangkal di depan bengkel knalpot Jalan Jendral Sudirman. Seiring bertambahnya pelanggan, ia mencari tempat baru di Jalan Kusumawardani. “Dulu kita hanya menawarkan ayam bakar,” jelas warga Lamper Tengah II 570/F ini.

Lantas, ia menemukan resep baru, bebek bakar dan goreng. Peminat bebek cukup banyak bila dibandingkan ayam. Sehingga kini nama ayam bakar kendil diubah menjadi bebek bakar kendil. “Akhirnya kita ganti nama menjadi bebek bakar kendil,”tandasnya.

Para pelanggan tidak hanya dari dalam kota, tapi juga dari Pekalongan, Tegal, Kudus, Jogjakarta, Solo. Harga bebek bakar Rp 13 ribu per potong dan Rp10 ribu untuk bebek goreng. Sementara ayam bakar harganya Rp 9000 per potong dan Rp 8500 untuk ayam goreng.

“Di Semarang kami tidak membuka cabang. Rencananya justau buka dua cabang di Jakarta Juni dan Oktober nanti. Selain itu kami akan memperkenalkan menu baru, ayam jepit,”katanya berpromosi
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Bakso Granat semarang


Bakso Granat berada di Jalan Sriwijaya no 32, Tentara Pelajar no 98 dan Kios Polres no 7 Lapangan Pancasila Salatiga ini, cita rasanya sesuai dengan namanya, granat. Cita rasa dan bentuk baksonya berbeda dengan bakso umumnya. Di dalam bakso ada bakso. “Di dalam bakso ada bakso lagi. Bakso yang kecil di dalamnya bila dimakan, rasanya seperti meledak karena berisi potongan cabe,” jelasnya sembari menuturkan akan membuka UGD (unit gerobak dorong) bakso.

Wartawan Radar Semarang ketika mencoba mencicipi bakso tersebut dibuat kaget. Ketika mengunyah, serasa meledak karena pedasnya cabe. Seporsi bakso harganya Rp 8000 lengkap dengan tauge, mi atau lontong, dan sawi ini “Selain satu bakso besar, dalam satu porsi juga ada bakso kecil yang berisi keju, jagung, dan wortel,”tambahnya.

Dirinya menjamin baksonya dibuat dari daging kualitas nomor satu, yang didatangkan langsung dari rumah pemotongan hewan di Salatiga. Selain bakso, warungnya juga menyediakan menu lain yakni cakar dan kepala ayam manis pedas, mi rebus, roti panggang dan jus buah. “Pelanggan kami kebanyakan anak muda. Kami bisa delivery service bebas ongkos kirim,” promosinya
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Nasi Koyor RM Abadi


Karena usaha jualan baju terimbas krisis moneter, Sri Lestari, 54, atau akrab disapa Bu Cicik banting setir ke bisnis makanan. Dengan memanfaatkan hobi memasaknya, ia memberanikan diri membuka rumah makan bernama Abadi di Jalan Perintis Kemerdekaan 227A Semarang.

Sepuluh tahun lalu, Sri membuka warung kecil-kecilan. Pelanggan pertamanya para sopir truk pasir jurusan Semarang-Muntilan. Lambat laun, usahanya semakin berkembang. Dari para sopir truk pasir, para bos, pejabat, dan pecinta masakan khas Jawa kini menjadi pelanggan tetapnya. “Dulu awal buka habis 6,5 kilogram beras. Saya juga heran waktu itu,” ujarnya

Menu andalanya dari awal buka hingga sekarang adalah nasi koyor, garang asem, sup dan empal gepuk. Dirinya tiap harinya menyediakan 55-58 jenis masakan. Untuk harga sangat terjangkau, mulai Rp 5 ribu hingga Rp 12 ribu. Selain itu juga ada bermacam-macam pepes yang rasanya pedas nikmat “Promosi hanya mengandalkan mulut ke mulut. Dari dulu rumah makan kami ya seperti ini, tidak berubah, menunya masakan Jawa,” katanya.

Rumah Makan Abadi buka mulai pukul 06.00-20.00, namun jika ada pelanggan yang ingin datang sebelum jam itu, dirinya mempersilakan. “Pernah ada, pelanggan rombongan yang telepon bilang akan datang pukul 21.00, ya warung tidak jadi kami tutup dulu. Atau pagi-pagi pukul 05.00 datang, ya kami bukakan pintu untuk sekedar beristirahat,”ujarnya.

Usaha yang kini, ditangani bersama anak bungsunya Dyah Budiliatri, 26, ini biasa melayani pesanan nasi bungkus dengan harga yang terjangkau. Pernah ada pemesan yang hanya membayar pesanan nasi bungkus dengan harga Rp 3.500.

“Kami tidak mematok harga untuk bungkusan yang penting pelanggan bisa merasakan masakan kami,” ungkapnya
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Bakso Goreng Warung Raharjo


Bagi pecinta kuliner bakso, bisa singgah di warung Raharjo Jalan Galar 6 no 35 Semarang. Selain menyediakan masakan khas ala warung tegal (warteg). Warung makan ini juga menyediakan bakso yang lengkap dengan bakso goreng (terbuat dari pati dan daging) dicampur dengan bumbu bakso.

Menu bakso di warung Raharjo, menurut pengelolanya, Alex Raharjo, 44, warga Jalan Galar 6 no 35 Semarang, baru sebulan terakhir ini. Bakso ini disediakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

“Sejak pertamakali membuka warung ini, sekitar tahun 2004 saya hanya menyediakan makanan warteg, seperti ramesan dan masih banyak yang lainnya. Namun beberapa waktu terakhir ini, pelanggan ingin juga menikmati bakso. Karena itu saya menyediakannya,” katanya.

Khusus untuk warteg, Alex, mengaku dirinya senantiasa menyediakan sayuran berganti-ganti setiap hari. Ini penting di lakukan mengingat, pelanggannya 80 persen adalah orang yang sama. “Biar pelanggan tidak jenuh, maka saya senantiasa menyediakan beragam sayuran yang berganti-ganti,” jelasnya.

Karena berlokasi di depan Polsek Sidodadi, maka sebagian besar pelanggan di warung ini, berasal dari kalangan polisi, juga pegawai Puskesmas, kelurahan, KUA, BKK dan klinik hewan.

Dengan pelanggan yang sebagian besar adalah karyawan di lingkungan setempat, waktu buka disesuaikan dengan jam kerja mereka. Yaitu sekitar pukul 07.00 hingga 20.00. Khusus bakso, sehari rata-rata bisa menghabiskan 50-an mangkuk, sedangkan untuk nasi rames seharinya ia mampu menjual sebanyak 120-an piring.
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Gule Kepala Ikan Kakap


Gule kepala ikan kakap “Pak Oeban” di Jalan Pamularsih Semarang ini rasanya rugi kalau tidak Anda coba. Selain memiliki rasa khas Bukit Tinggi, Sumatera Barat, menu bikinan Hj Kadar ini juga sangat terjangkau harganya. Menurut Hj Kadar, dirinya baru 2 tahun membuka warung di Jalan Pamularsih. Sebelumnya, warung Hj Kadar berada di daerah Poncol. Meski pindah tempat, warung makan dengan menu andalan gulai kepala ikan kakap ini tak pernah sepi pengunjung. Jika dibandingkan menu kuliner yang sama di warung lain, gulai kepala ikan kakap “Pak Oeban” memang istimewa. Menurut Hj Kadar, menu kuliner buatannya itu memakai bumbu rempah khas Sumatera Barat yang tiada duanya. “Resepnya warisan leluhur saya. Jadi ini turun-temurun,”akunya kepada Radar Semarang kemarin (29/5). Hj Kadar mengisahkan, resep masakan itu didapat dari ibunya. Sehingga tak semua orang menguasainya. “Dulu ayah saya menjadi ABRI (TNI) yang sering berpindah-pindah. Meski demikian, ibu saya tetap berjualan di manapun ayah berdinas,” cerita ibu 5 anak yang dibesarkan di Bukit Tinggi ini. Dia mengaku dalam sehari mampu menghabiskan 450 ekor kepala ikan kakap. Ikan kakap segar itu disuplai dari hasil budidaya di daerah Tambakaji, Semarang. Yang menarik, dalam penyajian menu ini dihidangkan bersama rebusan daun ketela dan sambal dari cabai hijau layaknya menu nasi padang. Seporsi gulai kepala ikan kakap cukup Rp 7.500. Kini, Hj Kadar dibantu 13 orang karyawan. Warungnya buka setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 16.00. Biar kompak, semua karyawan warung ini diwajibkan mengenakan seragam selama bertugas. Hari Senin mengenakan batik, hari lainnya pakai kaos berwarna oranye dan hitam. Meski memiliki 5 anak, tapi tampaknya yang akan meneruskan usahanya hanyalah seorang anaknya. Yakni, Poppy Indrasari. Kebetulan anaknya yang lain sudah merantau ke sejumlah daerah. “Yang bantu-bantu selama ini hanya Poppy. Karenanya, saya juga menurunkan resep ke dia,” katanya.
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Tahu Bakso Bu Puji


BELUM lengkap rasanya ke Ungaran bila tidak beli oleh-oleh tahu bakso. Barangkali pernyataan itu tak salah. Coba saja cicipi Tahu Baxo Bu Pudji, pasti akan ketagihan. Cita rasanya berbeda dengan tahu bakso umumnya yang banyak dijual di pasaran. Dari gigitan pertama sampai terakhir baksonya terasa.

Berbentuk kotak segi empat, di dalamnya ditanam bakso yang gurih. Semakin enak bila dinikmati dengan cabe rawit hijau nan pedas.

Sri Lestari atau akrab dipanggil Bu Pudji ini pencetus tahu bakso sebagai oleh-oleh khas Ungaran. Outlet “Tahu Baxo Bu Pudji” dan aneka bakso di Jalan Letjen Suprapto No 24 Ungaran tak pernah sepi pembeli. Bahkan, banyak yang rela antre demi mendapatkan tahu bakso ini. Umumnya, tahu bakso itu untuk oleh-oleh. Satu bungkus tahu bakso goreng berisi 10 biji harganya Rp 16 ribu, sedangkan tahu bakso basah atau belum digoreng Rp 15 ribu.

Apa keistimewaan tahu bakso Bu Pudji? Rasanya gurih, tidak terlalu asin, pas di lidah. Baksonya tidak sekadar hiasan atau cuma menempel di tahu, tapi mulai dari gigitan awal sampai terakhir terasa. Tak salah bila disebut tahu bakso, karena merupakan paduan tahu dan bakso. Bentuknya juga menarik, rapi, rata dan rapat.

“Rapi, rata dan rapat menjadi motto kami. Tahunya rapi, bentuknya rata dan baksonya rapet,”ujar Sri Lestari didampingi suaminya Pudjijanto di outletnya kemarin (28/5).

Tahu dan bakso diproduksi sendiri. “Kami sangat memperhatikan kualitas bahan baku dan pembuatannya sesuai aturan-aturan yang memenuhi standar kesehatan. Jadi lebih terjamin kualitasnya,”jelas Pudjijanto sembari menambahkan pembuatan tahu sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet seperti formalin.

Sejak awal buka usaha, dirinya menghindari hal itu karena tak ingin merugikan konsumen. Tak heran bila tahu baksonya hanya tahan sampai 2 hari, kecuali dimasukkan dalam lemari pendingin.

Dia mulai membuat tahu bakso pada 1995. Awalnya hanya dijual di kalangan teman-teman PKK, atau Dharma Wanita. Dari situ, tahu baksonya mulai dikenal luas. Sebelumnya hanya melayani kalau ada pesanan. Kemudian diputuskan setiap hari bikin. Karena setiap hari pasti ada yang membeli. Waktu itu dikenal dengan tahu bakso Kepodang karena Bu Pudji tinggal di Jalan Kepodang.

Tahun 1996, ia berjualan dengan gerobak dorong. Produksi tahu tiap hari hanya 100-150 biji, kemudian berkembang menjadi 1.500 pada 2002. Dan saat ini rata-rata tiap hari mencapai 10 ribu. Pada saat liburan Hari Raya Lebaran bisa sampai 15 ribu tahu setiap hari. Meskipun bermunculan pesaing baru, dirinya tetap eksis.

“Logikanya kalau banyak pesaing produksi kita berkurang. Realitasnya tidak, justru semakin bertambah dan bertambah. Saya juga tidak tahu kenapa bisa terjadi,”papar pria yang baru setahun pensiun itu.

Tahun 2002, pasangan suami istri ini pindah rumah, dari Jalan Kepodang ke Kutilang. Maka, nama tahu bakso Kepodang diganti menjadi Tahu Baxo Bu Pudji.

Diceritakan ibu 3 anak itu, ide membuat tahu bakso karena kepepet kebutuhan hidup. Gaji suami PNS dirasa tak mampu memenuhi kebutuhan yang semakin besar. “Tiap tanggal 10 gaji sudah habis. Jadi saya harus kreatif memutar otak mencari tambahan penghasilan,”papar perempuan berkerudung ini.

Semula mencoba bisnis pakaian, kelontong dan beberapa usaha lain, namun selalu menemui kegagalan. Lantas muncul ide bikin tahu bakso, ketika mencicipi tahu isi bakso di suatu acara. “Karena saya hobi masak, saya coba bikin tahu bakso,”katanya sembari tersenyum. Berkat tahu bakso, Bu Pudji tak lagi tergantung pada gaji suami yang pas-pasan.
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Kepala Iwak Manyung,Semarang


Kenikmatan kepala iwak manyung (mangut) masakan warung makan Selera Bu Fat Jalan Ariloka Raya Kelurahan Krobokan Semarang Barat tiada duanya. Sekali mencoba pasti ketagihan. Mengapa? Karena racikan bumbu rempah-rempah ditambah daging ikan yang empuk dan gurih membuat lidah bergoyang. Pelanggan kerap menyebutnya ndas (kepala) manyung.
Kepala ikan manyung yang pedas merupakan resep mendiang Ny Fatimah atau akrab disapa Bu Fat. Awalnya, ia hanya membuka warung makan kecil-kecilan di daerah Krobokan dengan menu masakan khas Jawa. Warungnya sempat berpindah-pindah hingga akhirnya menetap di Jalan Ariloka Raya.
“Awalnya hanya warung biasa kecil. Kami sempat berpindah-pindah, menu masakan juga sederhana,” ungkap Suyoso, 65, suami almarhumah Fatimah yang kini meneruskan warung itu.
Sebenarnya, ujar Suyoso, warung makan telah dirintis sejak tahun 1960. Namun, saat tahun 1997 dirinya bersama istri menemukan resep baru yakni kepala ikan manyung. Ternyata resep masakan tersebut diterima para pelanggannya hingga sekarang.
Kepala manyung memang menu andalan kami. Rata-rata per hari habis 30 kepala ikan manyung dengan berat sekitar 1 kg,” ungkap pria asli Wonogiri ini.
Satu porsi ikan kepala manyung, para pelanggan cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 30 ribu. Menu andalan lainnya adalah cumi-cumi, yang harganya Rp 10 ribu per porsi. Warung makan Bu Fat, juga menyediakan menu ayam goreng, pepes kepala kakap, pepes pindang, botok mlanding teri, opor, sup, dll.
“Kami menyediakan macam-macam masakan. Mungkin semua bahan yang ada di pasar, bisa kami masak semua,” ujarnya sembari tertawa.
Warung makan Bu Fat buka mulai pukul 06.00 – 19.00. Tapi, jika pelanggan datang pada pagi hari menu masakan masih belum komplit. Biasanya warung makan berukuran 6 x 9 m2 ini ramai dikunjungi pelanggan pada jam makan siang, mulai pukul 11.00-14.00.
Para pelanggan tetapnya antara lain Menteri Pertambangan dan Energi, Purnomo Yusgiantoro. Pernah memesan sampai puluhan bungkus dibawa ke Jakarta. Dirinya juga menerima pesanan untuk hajatan atau acara lain.
“Mungkin orang bisa memasak mangut, tapi kalau mangut di sini berbeda. Ada bumbu rahasianya. Ciri khas masakan kami adalah irisan cabe yang dipotong besar,” tandasnya
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Bakmi Jowo Totem


Masakan yang satu ini memang khas Jawa. Betapa tidak, dari namanya saja orang sudah bisa menebak, bakmi Jawa. Menemukan bakmi yang cita rasanya pas di lidah orang Semarang memang gampang-gampang susah. Namun, salah satu yang cocok adalah warung bakmi Jawa di komplek kampus Undip Tembalang. Nama warungnya Bakmi Jowo Totem Pak Pardi yang berada di pertigaan antara Jalan Prof Sudharto dan Jalan Sirojudin Tembalang.
Warungnya berada tepat di halaman Toko Tembalang (totem). Nama totem inilah yang akhirnya dipakai Pardi sang pemilik untuk mempermudah orang mencari warungnya.
Pria 50 tahun itu menyediakan menu bakmi Jawa goreng, bakmi godok, nasi goreng, dan kwetiau. Semua disajikan melalui tangan dinginnya yang terampil mengolah bumbu dan bahan lainnya. Selain itu sebagai pelengkap disediakan sate ayam yang gurih, atau dibakar bila pelanggan menginginkannya.
Jangan tanya rasa bakmi buatan lelaki kelahiran Tawangsari Sukoharjo ini, siapapun dibikin ketagihan bila merasakan racikannya. Harganya yang ekonomis, membuat warung bakminya laris manis dipenuhi mahasiswa Undip. “Satu porsi bakmi dan lainnya rata-rata Rp 5000,” jelas Pardi sembari melayani para pelanggannya.
Selain para mahasiswa, yang menjadi langgananya adalah karyawan swasta dan PNS atau dosen. “Menu yang paling banyak dipesan bakmi goreng dan nasi goreng,”imbuhnya.
Hampir tidak ada masakan yang tersisa di warung setiap harinya. Artinya berapapun bahan masakan yang dibawa Pardi selalu habis diserbu pelanggan. Kelezatan bakmi Jawa di warung Totem ini diakui oleh para pelanggannya, salah satunya adalah Indra yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Undip. Menurutnya bakmi goreng buatan Padi berbeda dengan bakmi goreng di warung lainnya. Selain porsinya banyak, rasanya juga sangat pas di lidah. “Rasa bakmi gorengnya sangat lezat. Tidak terlalu manis juga tak terlalu asin. Apalagi harganya sesuai dengan kantong mahasiswa seperti saya,” ucapnya saat jajan di warung tersebut.

Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More

Gimbal Udang Bu Sum


Menu-menu tradisional tetap digemari. Tak heran bila warung makan yang menyediakan masakan rumahan justru memiliki pelanggan loyal. Buktinya, Rumah Makan Bu Sum dengan menu andalan Gimbal Udang di Jalan Randusari Spaen 1 no 278 Semarang ini setiap hari dibanjiri pengunjung. Dari buka jam 06.00 sampai 16.00 warung tak pernah sepi, terlebih lagi pada jam-jam makan siang. Meskipun lokasinya berada di dalam kampung, pembeli tetap mencari.
Ada sekitar 50 jenis masakan Jawa, baik sayur maupun lauk-pauk yang disediakan oleh Suminah, 52, atau akrab disebut Bu Sum, pemilik warung Gimbal Udang Bu Sum ini. Kesemuanya masakan Jawa. Sebut saja lodeh kacang panjang-nangka muda, lodeh kangkung, otak-otak telur, perkedel, empal goreng, tempe goreng. Dan balado terong, oblok-oblok daun singkong, botok mlanding, oseng daun pepaya. Juga aneka sayur bening serta banyak lainnya. Konsumen tinggal pilih mana yang disuka.
Bu Sum sebelumnya mangkal di Jalan Pemuda. Karena areal mangkalnya dibangun Gedung Bank Jateng, tahun 1990 pindah ke Jalan Randusari Spaen yang merupakan rumah tinggalnya. Diceritakan Widiono, awal buka di dalam kampung padat itu, dirinya sempat stres. Lantaran, tidak kelihatan dari jalan raya, siapa yang akan beli, begitu pikirnya waktu itu.
Lama-kelamaan, kelezatan masakan Bu Sum tersebar dari mulut ke mulut. “Pelanggan banyak juga yang dari luar kota. Misalnya para PNS daerah yang ada urusan di provinsi, makan di sini. Kami juga tidak paham, mereka tahu dari mana,”lanjut bapak 3 anak, 1 cucu ini seraya menambahkan dulu pegawai hanya 3 sekarang menjadi 14 orang yang kesemuanya perempuan. Rumah makan terus berkembang omzet per hari sekitar Rp 4 juta -5 juta. Tiap hari menghabiskan beras 70 kilogram
Monday, May 02, 2011 | 0 comments | Read More